Detail Berita

Image

Pada hari ketiga Parade Literasi Sumatera Barat (13/08) Badan Peprustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat menghadirkan sastrawan terkemuka Eka Kurniawan dan CEO Penerbit Bentang Pustaka Salman Faridi. Kedua tokoh terkemuka tersebut memberikan pandang-pandangannya dalam Seminar Sastra Tingkat Nasional dengan tema “Sastra Indonesia di Tengah Sastra Dunia” di Gedung Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat.

Seminar ini merupakan rangkaian puncak dari Parade Literasi Sumatera Barat yang dimulai pada 11 Agustus 2016 lalu. Diskusi dalam seminar yang dimoderatori oleh Zelfina Wimra ini diikuti oleh sekitar 400 peserta. Peserta terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, dan umum.

Pada kesempatan ini Kepala Bidang Layanan Perpustakaan, Dra. Reni Delafina menyampaikan bahwa rendahnya minat baca masyarakat berdampak pada rendahnya penjualan buku dan perkembangan penerbit. Dengan kondisi penerbitan buku yang tidak kondusif ini berdampak pula pada kemunculan penulis yang berkualitas.

“Tidak banyak penulis Indonesia yang mampu berkiprah di mancanegara. Salah satunya adalah Eka Kurniawan. Untuk itulah perlu kita bahas bersama Eka Kurniawan agar muncul lebih banyak penulis kita yang mampu mencapai pembaca mancanegara,” ujar Dra. Reni Delafina.

Dalam seminar ini Eka Kurniawan menyampaikan bahwa sastra Indonesia sebenarnya sudah ada dalam peta sastra dunia sejak tahun 1950-an. Namun memang tidak banyak. Bahkan hingga sekarang, masih segelintir nama saja yang dikenal oleh negara-negara lain.

Jika kesusastraan Indonesia ingin menembus jaring-jaring distribusi/penyebaran ini, tak terelakkan bahwa karya-karya tersebut harus diterjemahkan ke setidaknya beberapa bahasa yang dianggap lingua franca tersebut. Dengan penyebaran yang luas, bahasa Inggris menjadi favorit. 

Kemungkinan kedua bisa dilakukan: menerjemahkan ke banyak bahasa secara langsung. Ini pilihan yang baik, karena bagaimana pun di banyak negara, orang tetap membaca buku dalam bahasa mereka sendiri dan masih menganggap bahasa Inggris dll itu sebagai “bahasa asing”. 

Tapi tentu saja ini membutuhkan ongkos yang lebih besar lagi. Usaha ketiga yang bisa dilakukan, lebih sulit tapi mungkin bermanfaat dalam jangka panjang: menyebarluaskan bahasa Indonesia seluas-luasnya. Dengan luasnya orang yang bisa mempergunakan bahasa ini, semakin banyak yang membaca karya sastra dalam bahasa Indonesia.

Sementara itu Salman Faridi menyampaikan bahwa ia ingin mendorong bola inisiatif yang telah dimulai oleh pemerintah pusat ke daerah. Sesungguhnya, jalan meretas karya sastra lebih banyak lagi ke pentas dunia terbuka lebar dengan bantuan pemerintah daerah.

Upaya swasta seperti yang dilakukan penerbit pada umumnya tidak akan optimal sebab keterbatasan dana, dan fokus menangani pasar domestik yang jauh menjanjikan daripada mengalokasikan sejumlah besar investasi untuk ditempatkan pada program penerjemahan secara mandiri. Kalaupun ada, jumlahnya dipastikan tidak banyak, dan tentu saja prioritas ada pada naskah komersial. Kehadiran pemerintah daerah yang juga peduli dengan penulis dan karyanya akan membukakan harapan bahwa Indonesia secara konsisten melahirkan sejumlah penulis yang karyanya diperkenalkan secara global.


Cari Berita!

Navigation

Social Media